Buku ITB ‘Merancang yang Akan Dibuang’: Menggugat Desain Kemasan Kasir di Era Konsumen Pintar
Ketika seorang dosen ITB meluncurkan buku berjudul Merancang yang Akan Dibuang, judulnya saja sudah memancing tanya: apa yang sebenarnya akan dibuang? Jawabannya bukan sekadar sampah plastik, melainkan paradigma lama dalam desain kemasan yang menempel di area kasir—tempat konsumen memutuskan beli atau tidak dalam hitungan detik.
Latar Belakang Buku dan Penulis
Prof. Dr. Rudi Hartono, dosen jurusan Desain Produk ITB, menulis buku ini setelah meneliti lebih dari 200 titik penjualan di Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Ia menemukan bahwa hampir 70% kemasan di rak kasir tidak lagi berfungsi sebagai media komunikasi visual, melainkan menjadi beban logistik yang meningkatkan biaya operasional retailer dan menurunkan pengalaman belanja.
Kenapa Kemasan di Kasir Jadi Sorotan?
Area kasir adalah “last mile” visual dalam perjalanan pembelian. Di sinilah branding visual bertemu dengan UI/UX fisik: warna, tipografi, bentuk, dan bahkan tekstur kemasan harus menyampaikan nilai produk dalam hitungan detik. Namun, Rudi mencatat bahwa banyak brand masih mengandalkan desain yang didominasi “eye‑catchy” tanpa mempertimbangkan kepraktisan, keberlanjutan, atau konsistensi dengan identitas digital.
Implikasi pada Branding Visual
Desain kemasan yang tidak relevan dapat memecah narasi brand. Contohnya, sebuah kopi lokal yang menampilkan ilustrasi vintage pada kemasan butuh menyesuaikan visualnya dengan tampilan aplikasi pemesanan online yang minimalis. Jika tidak, konsumen akan merasakan dissonansi antara apa yang mereka lihat di rak dan apa yang mereka lihat di layar—dampak yang menggerus trust brand.
UI/UX Fisik: Desain Touchpoint di Kasir
UI/UX biasanya dipakai untuk produk digital, namun prinsipnya sama: meminimalkan friction dan meningkatkan kepuasan pengguna. Rudi menyoroti tiga elemen penting pada kemasan kasir:
- Ergonomi: Bentuk kemasan harus mudah dipegang, tidak melorot saat diletakkan di konveyor.
- Informasi Hierarki: Harga, promo, dan QR code harus terstruktur secara visual sehingga mata konsumen langsung menangkap nilai tambah.
- Keberlanjutan Visual: Penggunaan material yang dapat didaur ulang harus disertai ikon yang mudah dipahami, mengurangi kebingungan konsumen.
Peluang Bisnis untuk Freelancer & Startup
Indonesia diprediksi akan menghasilkan US$ 13,5 miliar pasar kemasan ramah lingkungan pada 2028. Bagi freelancer UI/UX, agensi branding, atau startup logistik, buku ini membuka celah layanan:
- Audit kemasan “kasir‑ready” untuk brand FMCG.
- Desain sistem identitas visual terintegrasi antara packaging, website, dan aplikasi mobile.
- Pengembangan material biodegradable dengan desain yang tetap “eye‑catchy”.
Langkah Praktis untuk Desainer Indonesia
Agar tidak terjebak dalam desain yang “akan dibuang”, para desainer dapat mengikuti 5 langkah berikut:
- Riset Lapangan: Kunjungi setidaknya tiga titik penjualan lokal per minggu, amati bagaimana konsumen berinteraksi dengan kemasan.
- Map Journey Konsumen: Buat diagram yang menghubungkan touchpoint digital (e‑commerce) dan fisik (kasir).
- Prototype Material: Gunakan bahan ringan seperti kertas kraft atau bioplastic, lalu uji ketahanan di lingkungan kasir (suhu, kelembaban).
- Iterasi Visual: Terapkan prinsip hierarchy visual—warna utama, tipografi bold, dan ikon yang konsisten.
- Kolaborasi Lintas Disiplin: Libatkan tim UX researcher, sustainability expert, serta copywriter untuk menciptakan storytelling yang kohesif.
Dengan pendekatan ini, desain tidak hanya “menarik” mata, tetapi juga “menyentuh” kebutuhan nyata konsumen di titik penjualan paling kritis.
Kesimpulan: Dari Kritik Menjadi Aksi
“Merancang yang Akan Dibuang” bukan sekadar kritik, melainkan panduan aksi bagi seluruh ekosistem kreatif Indonesia. Dari dosen hingga freelancer, semua dipanggil untuk menata ulang bahasa visual kemasan di area kasir—agar setiap produk yang lewat tidak hanya terjual, tetapi juga memberi nilai estetika, fungsional, dan lingkungan.