Siapa yang tidak tergiur dengan kata “freelance”? Bayangannya selalu indah: bangun siang, kerja sambil ngopi di kafe estetik, tidak punya bos yang hobi marah-marah, dan bisa liburan kapan saja tanpa perlu pengajuan cuti yang rumit. Istilah kerennya, Digital Nomad.
Tapi, jujur saja, realitanya sering kali tidak seindah filter Instagram. Bagi banyak pejuang cuan di jalur mandiri, kebebasan yang digadang-gadang itu sering kali berubah menjadi bumerang. Istilah “bekerja di mana saja” pelan-pelan bergeser menjadi “stres di mana-mana”.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Mari kita bedah sisi gelap yang jarang dibicarakan di balik layar laptop para freelancer.
1. Jebakan “Selalu Standby” 24/7
Masalah terbesar freelancer bukanlah tidak ada kerjaan, tapi justru tidak tahu kapan harus berhenti kerja. Karena rumah adalah kantor, dan smartphone selalu di tangan, batasan antara waktu pribadi dan waktu profesional jadi kabur.
Banyak freelancer merasa bersalah kalau tidak membalas pesan klien dalam hitungan menit, meski itu sudah jam 10 malam. Ketakutan akan kehilangan proyek (fear of missing out) membuat otak kita terus berada dalam mode “on”. Hasilnya? Burnout yang datang diam-diam.
2. Kesepian di Tengah Keramaian
Bekerja sendiri memang tenang, tapi manusia tetap makhluk sosial. Tidak ada teman kantor untuk sekadar curhat soal revisi yang tidak masuk akal atau sekadar bercanda saat jam istirahat. Duduk di kafe seharian mungkin terlihat keren, tapi interaksi yang hanya sebatas “pesan kopi satu” sering kali memicu rasa isolasi sosial yang mendalam.
3. Siklus “Panen Raya” dan “Paceklik”
Ketidakpastian finansial adalah musuh utama kesehatan mental. Bulan ini mungkin kita kebanjiran proyek sampai kurang tidur, tapi bulan depan bisa jadi benar-benar sepi. Ketidakpastian ini memicu kecemasan jangka panjang. Kita jadi sulit merencanakan masa depan karena merasa harus “menabung sebanyak-banyaknya selagi ada,” yang ujung-ujungnya memaksa kita mengambil semua kerjaan tanpa memikirkan kapasitas mental.
Lalu, Gimana Solusinya?
Menjadi freelancer bukan berarti harus mengorbankan kewarasan. Ada beberapa cara sederhana yang bisa kita lakukan:
Buat “Jam Kantor” Sendiri: Disiplin pada diri sendiri kapan harus mulai dan kapan harus menutup laptop.
Ruang Khusus: Jika memungkinkan, jangan bekerja di tempat tidur. Otak perlu asosiasi ruang: mana tempat kerja, mana tempat istirahat.
Cari Komunitas: Bergabunglah dengan grup atau komunitas sesama freelancer untuk berbagi keluh kesah dan info proyek. Kamu tidak sendirian.
Kebebasan adalah aset berharga, tapi kesehatan mental adalah modal utama. Jangan sampai demi mengejar kebebasan finansial, kita justru terpenjara oleh rasa stres yang tak berujung.
Tentang PT Dakreativ Digital Media:
PT Dakreativ Digital Media adalah perusahaan kreatif yang berfokus pada solusi digital, mulai dari pengembangan web builder hingga publikasi media. Dengan pengalaman membangun ratusan ekosistem digital, Dakreativ berkomitmen membantu individu dan bisnis tampil lebih menonjol di era digital melalui inovasi yang relevan.
Kontak Media:
Nama: Dadan Furman Email: hello@dakreativ.com Website: www.dakreativ.com
